Minggu, 10 Mei 2015

Pendidikan Nilai Sebagai Fondasi Keberhasilan Belajar Anak Bangsa



Pendidikan Nilai Sebagai Fondasi Keberhasilan Belajar Anak Bangsa
Oleh : Aida Azizah
Pendidikan merupakan sebuah tonggak maju  mundurnya suatu bangsa. Tingkat pendidikan suatu bangsa akan sangat memberikan dampak yang luar biasa terhadap kelangsungan peradaban. Pendidikan pada dasarnya adalah suatu upaya sadar yang bertujuan untuk memanusiakan manusia. Bagaimana manusia akan menjadi manusia adalah bisa dilihat dari kualitas pendidikan dan output yang dihasilkan. Cikal bakal kemajuan bangsa terlahir dari sebuah generasi yang unggul secara intelektual dan secara moral. Karena ketika pendidikan hanya mengasah  aspek intelektual saja, maka pendidikan belum dikatakan memanusiakan manusia. Karena intelektual tanpa di imbangi dengan moral maka, belum tentu akan memberikan suatu perubahan yang positif. Seringkali kita temui banyak orang pintar tetapi berujung pada kepintarannya korupsi. Ini sudah mencerminkan bahwa intelektual tanpa moral bangsa ini tidak akan berada dalam kemajuan.
Sebagaimana tujuan pendidikan nasional dalam UU.No.20 tahun 2003 bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.  Dengan demikian kesadaran beriman  merupakan sebuah fondasi yang kuat untuk membentuk mental generasi bangsa agar terhindar dari perbuatan tidak terpuji. Oleh sebab itu, penting memberikan fondasi moral dan keimanan terhadap generasi penerus. Sebagai bagian generasi penerus bangsa, generasi ini harus di berikan pendidikan yang akan membentuknya menjadi generasi yang memiliki daya saing tinggi dan berakhlak serta bermoral. Generasi tersebut akan memberikan sumbangsih yang sangat besar terhadap kemajuan bangsanya.
Kita ingat sebuah kutipan The Tso Chuan yang menyebutkna bahwa “Orang yang sangat mulia adalah orang yang mempelopori suatu gerakan moral yang berguna bagi generasinya dan generasi berikutnya : selanjutnya adalah orang yang memberikan jasa besar bagi masyarakaat umumnya: dan selanjutnya adalah orang-orang yang kata-katanya memberikan pencerahan dan inspirasi bagi orang lain. Ini adalah tiga pencapaian yang takkan mati dalam kehidupan” (The Tso Chuan, abad ke-5 SM). Maka, pendidikan  nilai kini sangat penting untuk diberikan kepada para pembelajar sebagai bagian dari revitalisasi moral dan akhlak. Revitalisasi pendidikan nilai sangat penting, melihat proses pendidikan yang berlangsung selama ini belum sepenuhnya berhasil dalam membangun manusia Indonesia yang berkarakter.
Namun kini, pendidikan di negeri ini sedang mengalami banyak problematika. Betapa mirisnya wajah Indonesia yang hampir tiap hari disajikan televisi melalui siaran berita, seperti kasus pemerkosaan, tawuran dan tindakan-tindakan criminal yang seringkali meneyebabkan jatuhnya korban, baik itu korban luka-luka hingga berujung kematian. Yang membuat lebih miris dari semua itu adalah usia para pelaku yang masih berstatus pelajar. Bahkan banyak diantara mereka masih duduk dibangku sekolah dasar. Tentunya terbesit banyak pertanyaan dalam benak kita “Ada apa dengan bangsa ini?” marilah kita sebagai orang tua dan guru yang hakikatnya sama-sama berperan sebagai pendidik untuk merenungkan sejenak masalah ini hingga akhirnya tumbuh kepedulian untuk merubah wajah anak negeri.    Salah satu problem yang mendasar dalam pendidikan adalah terkait dengan pendidikan akhlah (moral). Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap pendidikan akhlak akan semakin memperparah dan memperpuruk kondisi masyarakat berupa dekadensi moral. Oleh karena itu untuk memurnikan kembali kondisi yang sudah tidak relevan dengan aturan pendidikan. Berdasarkan hal tersebut upaya perbaikan harus segera dilakukan. Salah satu upaya tersebut adalah melalui pendidikan nilai. Upaya ini menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, juga diharapkan menjadi fondasi utama dalam menyukseskan Indonesia dimasa yang akan datang.
Akhlak dan bobroknya moral pelajar saat ini sudah menjadi bagian yang mengharuskan revitalisasi pendidikan nilai  segera di berlakukan. Pendidikan nilai perlu ditanamkan sejak dini di berbagai tingkatan pendidikan. Guru sebagai ujung tombang penghantar pendidikan perlu memahami bahwasannya mendidik dan mengajar sangatlah berbeda. Dalam menjalankan tugasnya, guru memiliki beberapa fungsi dalam pelaksanaan pendidikan. Dimana bukan hanya sebagai pentransfer ilmu, tapi bagaimana mendidik dan menamkan nilai dan moral sehingga setiap anak memiliki akhlak yang baik. Penanaman akhlak dan moral perlu di sadari oleh para pendidik untuk menjadi bagian terpenting program pendidikan yang patut di jalankan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Aristoteles bahwa tugas guru adalah melayani dan menemani murid dalam merumuskan pertanyaan-pertanyaan dasar , sekolah bukan tempat untuk menumpahi murid dengan tumpukkan informasi tetapi melatih kematangan berfikir serta kedewasaan bersikap. Lantas apakah penanaman pendidikan nilai ini hanya menjadi tanggung jawab guru? Tentu tidak, karena orang tua juga sangat memiliki peran yang penting dalam mendidik anak. Sebagaimana peran keluarga sebagai pendidikan kula (pemberi pendidikan yang pertama) artinya justru penanaman nilai ini pun perlu ditanamkan sejak dini oleh orang tua kepada anak. Orang tua yang memiliki bekal ilmu dalam mendidik anak akan sadar tentang pentingnya pendidikan anak sejak usia dini bahkan sejak anak masih berada didalam rahim ibu. Jika ditinjau dari sudut pandang psikososial pendidikan adalah upaya penumbuhkembangan sumber daya manusia melalui proses hubungan interpresonal yang berlangsung dalam lingkungan masyarakat yang terorganisasi, dala hal ini masyarakat pendidikan adalah keluarga.
Proses perkembangan sosial dan moral siswa selalu berkaitan dengan proses belajar. Artinya kualitas perkembangan sosial dan moral sangat bergantung pada kualitas proses belajar. Oleh karea itu, apabila negeri ini menghendaki keberhasilan dalam membangun pendidikan karakter, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membangun mental para guru. Menurut Suyanto, semblian pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal adalah:
1.      Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya;
2.      Kemandirian dan tanggung jawab;
3.      Kejujuran/amanah;
4.      Hormat dan santun;
5.      Dermawan, suka menolong, dan kerjasama;
6.      Percya diri dan pekerja keras;
7.      Kepemimpinan dan keadilan;
8.      Baik dan rendah hati;
9.      Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Dengan demikian membangun karakter dan moral yang baik akan berdampak dan berkorelasi dengan meningkatnya prestasi akademik dan keberhasilan pesertadidik dalam proses pendidikan dan pembelajaran.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar