Pendidikan Nilai Sebagai Fondasi Keberhasilan
Belajar Anak Bangsa
Oleh : Aida Azizah
Pendidikan merupakan sebuah tonggak
maju mundurnya suatu bangsa. Tingkat
pendidikan suatu bangsa akan sangat memberikan dampak yang luar biasa terhadap
kelangsungan peradaban. Pendidikan pada dasarnya adalah suatu upaya sadar yang
bertujuan untuk memanusiakan manusia. Bagaimana manusia akan menjadi manusia
adalah bisa dilihat dari kualitas pendidikan dan output yang dihasilkan. Cikal
bakal kemajuan bangsa terlahir dari sebuah generasi yang unggul secara
intelektual dan secara moral. Karena ketika pendidikan hanya mengasah aspek intelektual saja, maka pendidikan belum
dikatakan memanusiakan manusia. Karena intelektual tanpa di imbangi dengan moral
maka, belum tentu akan memberikan suatu perubahan yang positif. Seringkali kita
temui banyak orang pintar tetapi berujung pada kepintarannya korupsi. Ini sudah
mencerminkan bahwa intelektual tanpa moral bangsa ini tidak akan berada dalam
kemajuan.
Sebagaimana tujuan pendidikan nasional
dalam UU.No.20 tahun 2003 bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi untuk
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Dengan demikian kesadaran beriman merupakan sebuah fondasi yang kuat untuk
membentuk mental generasi bangsa agar terhindar dari perbuatan tidak terpuji.
Oleh sebab itu, penting memberikan fondasi moral dan keimanan terhadap generasi
penerus. Sebagai bagian generasi penerus bangsa, generasi ini harus di berikan
pendidikan yang akan membentuknya menjadi generasi yang memiliki daya saing
tinggi dan berakhlak serta bermoral. Generasi tersebut akan memberikan
sumbangsih yang sangat besar terhadap kemajuan bangsanya.
Kita ingat sebuah kutipan The Tso Chuan
yang menyebutkna bahwa “Orang yang sangat mulia adalah orang yang mempelopori
suatu gerakan moral yang berguna bagi generasinya dan generasi berikutnya :
selanjutnya adalah orang yang memberikan jasa besar bagi masyarakaat umumnya:
dan selanjutnya adalah orang-orang yang kata-katanya memberikan pencerahan dan
inspirasi bagi orang lain. Ini adalah tiga pencapaian yang takkan mati dalam
kehidupan” (The Tso Chuan, abad ke-5 SM). Maka, pendidikan nilai kini sangat penting untuk diberikan
kepada para pembelajar sebagai bagian dari revitalisasi moral dan akhlak.
Revitalisasi pendidikan nilai sangat penting, melihat proses pendidikan yang
berlangsung selama ini belum sepenuhnya berhasil dalam membangun manusia
Indonesia yang berkarakter.
Namun
kini, pendidikan di negeri ini sedang mengalami banyak problematika. Betapa
mirisnya wajah Indonesia yang hampir tiap hari disajikan televisi melalui
siaran berita, seperti kasus pemerkosaan, tawuran dan tindakan-tindakan
criminal yang seringkali meneyebabkan jatuhnya korban, baik itu korban
luka-luka hingga berujung kematian. Yang membuat lebih miris dari semua itu
adalah usia para pelaku yang masih berstatus pelajar. Bahkan banyak diantara
mereka masih duduk dibangku sekolah dasar. Tentunya terbesit banyak pertanyaan
dalam benak kita “Ada apa dengan bangsa ini?” marilah kita sebagai orang tua
dan guru yang hakikatnya sama-sama berperan sebagai pendidik untuk merenungkan
sejenak masalah ini hingga akhirnya tumbuh kepedulian untuk merubah wajah anak
negeri. Salah satu problem yang
mendasar dalam pendidikan adalah terkait dengan pendidikan akhlah (moral).
Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap pendidikan akhlak akan semakin
memperparah dan memperpuruk kondisi masyarakat berupa dekadensi moral. Oleh
karena itu untuk memurnikan kembali kondisi yang sudah tidak relevan dengan
aturan pendidikan. Berdasarkan hal
tersebut upaya perbaikan harus segera dilakukan. Salah satu upaya tersebut
adalah melalui pendidikan nilai. Upaya ini menjadi bagian dari proses
pembentukan akhlak anak bangsa, juga diharapkan menjadi fondasi utama dalam
menyukseskan Indonesia dimasa yang akan datang.
Akhlak dan bobroknya moral pelajar saat
ini sudah menjadi bagian yang mengharuskan revitalisasi pendidikan nilai segera di berlakukan. Pendidikan nilai perlu
ditanamkan sejak dini di berbagai tingkatan pendidikan. Guru sebagai ujung
tombang penghantar pendidikan perlu memahami bahwasannya mendidik dan mengajar
sangatlah berbeda. Dalam menjalankan tugasnya, guru memiliki beberapa fungsi
dalam pelaksanaan pendidikan. Dimana bukan hanya sebagai pentransfer ilmu, tapi
bagaimana mendidik dan menamkan nilai dan moral sehingga setiap anak memiliki
akhlak yang baik. Penanaman akhlak dan moral perlu di sadari oleh para pendidik
untuk menjadi bagian terpenting program pendidikan yang patut di jalankan. Sebagaimana
yang dikemukakan oleh Aristoteles bahwa tugas guru adalah melayani dan menemani
murid dalam merumuskan pertanyaan-pertanyaan dasar , sekolah bukan tempat untuk
menumpahi murid dengan tumpukkan informasi tetapi melatih kematangan berfikir
serta kedewasaan bersikap. Lantas apakah penanaman pendidikan nilai ini hanya
menjadi tanggung jawab guru? Tentu tidak, karena orang tua juga sangat memiliki
peran yang penting dalam mendidik anak. Sebagaimana peran keluarga sebagai
pendidikan kula (pemberi pendidikan yang pertama) artinya justru penanaman
nilai ini pun perlu ditanamkan sejak dini oleh orang tua kepada anak. Orang tua
yang memiliki bekal ilmu dalam mendidik anak akan sadar tentang pentingnya
pendidikan anak sejak usia dini bahkan sejak anak masih berada didalam rahim
ibu. Jika ditinjau dari sudut pandang psikososial pendidikan adalah upaya
penumbuhkembangan sumber daya manusia melalui proses hubungan interpresonal
yang berlangsung dalam lingkungan masyarakat yang terorganisasi, dala hal ini
masyarakat pendidikan adalah keluarga.
Proses
perkembangan sosial dan moral siswa selalu berkaitan dengan proses belajar.
Artinya kualitas perkembangan sosial dan moral sangat bergantung pada kualitas
proses belajar. Oleh karea itu, apabila negeri ini menghendaki keberhasilan
dalam membangun pendidikan karakter, langkah pertama yang harus dilakukan
adalah membangun mental para guru. Menurut Suyanto, semblian pilar karakter
yang berasal dari nilai-nilai luhur universal adalah:
1.
Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya;
2.
Kemandirian dan tanggung jawab;
3.
Kejujuran/amanah;
4.
Hormat dan santun;
5.
Dermawan, suka menolong, dan kerjasama;
6.
Percya diri dan pekerja keras;
7.
Kepemimpinan dan keadilan;
8.
Baik dan rendah hati;
9.
Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Dengan
demikian membangun karakter dan moral yang baik akan berdampak dan berkorelasi
dengan meningkatnya prestasi akademik dan keberhasilan pesertadidik dalam
proses pendidikan dan pembelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar