Calon Imam, Dengarkan Aku Walau Hanya Satu Detik
Kita
coba menapaki tebing yang terjal. Bukan untuk saling unjuk kekuatan. Bukan
untuk saling unjuk kemampuan. Tapi karena ini memang jalan yang telah
digariskan. Sebagaimana kita bisa melewatinya dengan tak lupa memperdulikan
sekitar. Sebagaimana kita bisa tetap berpegang teguh tanpa berusaha saling menjatuhkan.
Duhai calon imamku dimanapun kamu.. Bolehkah dalam harapku, ku ungkapkan
beberapa permintaan untukmu? Aku bukan perempuan yang gila hartamu, bukan
perempuan yang bernafsu merebut kekuasaanmu. Aku hanya ingin menjadi perempuan
yang selalu berada di sampingmu, menemanimu, ikut merasakan sekeras apa
perjuanganmu. Aku hanya ingin kelak, ketika semua orang begitu bangga padamu,
kamu tak lupa untuk tetap menoleh ke arahku.
Hai kamu yang tak pernah
bosan ku ucap dalam do'a..
Sudikah kamu untuk jadi
panutan terbaikku?
Nanti,
mungkin kamu akan nampak seperti penjahat yang mengambilku dari orang tuaku.
Saat itu, apa kamu yakin mampu mengambilku dengan cara yang paling baik? Mereka
membesarkanku dengan cara yang baik, mendidikku untuk selalu bertutur kata yang
baik. Apa kamu bisa melakukan hal yang sama nantinya? Mungkin terlalu dini
untukku berangan-angan, tapi setidaknya aku punya harapan. Aku butuh kamu yang
tak mengutamakan nada tinggi saat menasehatiku. Aku butuh kamu yang ketika aku
salah justru mengusap kepalaku penuh kelembutan sembari berkata, "Sayang,
jangan seperti itu". Aku pikir itu cara yang paling halus yang bisa kamu
lakukan untuk menegurku.
Hai kamu yang masih rahasia..
Aku
berjanji, aku tak akan membuatmu merasa direndahkan saat bersamaku. Aku begitu
paham, bahwa kaulah pemimpin sebenarnya di surga kecil kita nanti.
Hei, bukankah pemimpin juga butuh penasehat? Bolehkah aku jadi penasehatmu? Mengingatkanmu pada detail kecil yang kau abaikan misalnya. Iya, aku tahu mungkin kamu tak butuh itu, mungkin kamu hanya ingin ditemani tanpa mendengar ocehan tak penting dariku. Tapi bolehkah sebentar saja kau saring ocehanku? Apa benar-benar tak ada yang bisa kau ambil sedikit pun?
Hei, bukankah pemimpin juga butuh penasehat? Bolehkah aku jadi penasehatmu? Mengingatkanmu pada detail kecil yang kau abaikan misalnya. Iya, aku tahu mungkin kamu tak butuh itu, mungkin kamu hanya ingin ditemani tanpa mendengar ocehan tak penting dariku. Tapi bolehkah sebentar saja kau saring ocehanku? Apa benar-benar tak ada yang bisa kau ambil sedikit pun?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar