PERAN
PENDIDIKAN IPA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA
Revolusi mental merupakan sebuah
istilah tabu dan banyak di perbincangkan di berbagai kalangan. Di
masa pemerintah Jokowi-JK seruan revolusi mental
tersebut semakin ter blow up. Kini, pendidikan pun dituntut untuk mampu merevolusi
mental peserta didik. Mengapa
revolusi mental selalu di serukan?. Hal
ini terkait dengan nilai karakter bangsa yang semakin merosot. Banyak fenomena
yang terjadi akibat bobobroknya karakter anak bangsa. Degradasi nilai dan moral tidak hanya terjadi pada satu kalangan tetapi di berbagai kalangan
hal ini kian terjadi. Mulai dari pejabat banyak yang korupsi, pelajar banyak
yang terlibat tawuran, oknum guru melakukan pencabulan dan banyak hal lain yang
kini terjadi. Ironi memang dengan kenyataan ini, bahkan angka kriminalitas di
Indonesia saja semakin hari semakin meningkat ini sudah mencerminkan betapa
tidak bermoralnya anak bangsa. Ketika negara lain sudah maju dengan
teknologinya, dan Indonesia masih harus berbenah dengan mental bangsanya
sendiri. Sebuah negara besar di bangun dari mental anak bangsa yang kuat dengan
cerminan nilai moral akhlak dan etika yang dimilikinya. Ketika kita definisikan,
revolusi adalah sebuah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung dengan
begitu cepat menyangkut beberapa aspek kehidupan masyarakat. Tentunya sebuah
perubahan jelas menginginkan adanya
peningkatan yang signifikan dari sebuah aspek kehidupan menjadi lebih baik.
Sedangkan definisi mental menurut KBBI adalah bersangkutan dengan batin dan
watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga.
Revolusi mental artinya sebuah
perubahan yang berpangkal pada mental manusia. Mental disini adalah suatu
karakter yang menjadikannya suatu kepribadian yang mampu mendorong untuk
melakukan berbagai kegiatan yang
positif. Revolusi mental ini merupakan suatu upaya untuk merobohkan dan
menjebol mental-mental yang kurang baik, yang selama ini mungkin sudah mendarah
daging. Dengan revolusi mental ini, maka suatu sistem baru yang berkaitan dengan
dialektika, logika, dan romantika kehidupan akan menjembatani pembentukan karakter
manusia yang berakhlak dan bermoral. Lantas bagaimana kita dapat menembus
revolusi mental dalam situasi dan kondisi saat ini?. Revolusi mental yang
mengarah kepada kemajuan bangsa, dapat terbentuk ketika semua elemen menunjang
dalam merepresentasikan revolusi mental ini kedalam semua elemen kehidupan.
Beragam faktor yang muncul dapat
berpengaruh terhadap pembentukan revolusi mental. Beberapa faktor tersebut
dapat kita cermati mulai dari kebijakan pemimpin, sistem pemerintahan, sistem
pendidikan, sistem ekonomi, kesehatan dan beberapa aspek lain yang berhubungan
erat dengan kemaslahatan umat manusia.
Salah
satu aspek yang dapat menjadi tumpuan dalam revolusi mental adalah dengan
pendidikan. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mencapai suatu
perubahan. Sesuai yang dikemukakan oleh M.J. Langeveld bahwa pendidikan
merupakan upaya dalam membimbing manusia yang belum dewasa kearah kedewasaan.
Pendidikan adalah suatu usaha dalam menolong anak untuk melakukan tugas-tugas
hidupnya, agar mandiri dan bertanggung jawab secara susila. Pendidikan juga
diartikan sebagai usaha untuk mencapai penentuan diri dan tanggung jawab. Memaknai
revolusi mental kaitannya dengan pendidikan adalah bagaimana menanamkan nilai,
etika, moral dan karakter sejak usia dini bahkan melalui pendidikan hal
tersebut dapat terbentuk. Sebagaimana tercantum dalam UU.No.20 tahun 2003 pasal
1 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Berdasarkan penjelasan yang termaktub dalam UU.No.20 tahun 2003 bahwa setiap
peserta didik harus memiliki kekuatan spiritual keagaman, pengendalian diri,
dan kepribadian yang baik jelas ini akan berdampak pada mental yang terbentuk
dalam setiap diri peserta didik, yang terinternalisasi dengan proses
pendidikan. Sebagaimana tujuan dari pendidikan berdasarkan UU.No.20 tahun 2003
pasal 3 bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan penjelasan diatas
bahwa seharusnya kini pendidikan dapat mengaitkan pembelajaran dengan pendidikan karakter. “Karakter
adalah ciri khas yang dimiliki oleh setiap benda atau individu. Ciri khas
tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu
tersebut, dan merupakan mesin yang mendorong bagaimana seseorang bertindak,
bersikap, berujar, dan merespon sesuatu” (Kertajaya
dalam Hidayatullah ,2010:13).
Untuk
mewujudkannya, dapat direalisasikan dalam bentuk kurikulum atau program
pendidikan di sekolah-sekolah. Karena bagaimanapun revolusi mental tidak akan
terbentuk ketika tidak ada program khusus yang akan mendongkrak lahirnya suatu
gerakan perubahan baru menuju mental-mental yang berakhlak dan bermoral. Oleh
karena itu, pendidikan sebagai tonggak utama dalam pembentukan revolusi mental
perlu melakukan kajian strategis agar semua tujuan-tujuan tersebut tercapai.
Salah satu bentuk program pendidikan yang dapat mendongkrak revolusi mental
adalah dengan pengembangan mutu pembelajaran dalam setiap bidang studi. Salah
satu bentuk program dalam revolusi mental yang dapat dilakukan dalam
pembelajaran adalah dengan kajian strategis mengenai peran pendidikan IPA dalam
pembentukan karakter bangsa. Mengapa pendidikan IPA memiliki peranan penting
dalam pembentukan karakter bangsa?. IPA merupakan suatu
konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan
kehidupan manusia. Segala hal yang berkaitan dengan lingkungan sekitar baik
lingkungan fisik dan non fisik di pelajari dalam pembelajaran IPA. Lingkungan
merupakan sebuah kerangka dalam pembentukan karakter peserta didik. Karena
lingkungan akan dengan kuat mempengaruhi bagaimana peserta didik berprilaku.
Oleh karena itu, pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan
juga perkembangan teknologi. Karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan
minat manusia serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta pemahaman tentang alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang
belum terungkap dan masih bersifat rahasia. Sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan
menjadi ilmu pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari.
Perkembangan pendidikan IPA semakin hari semakin berkembang dari
beberapa dekade ini, banyak negara maju yang sudah memanfaatkan pendidikan IPA
dalam menciptakan suatu penemuan-penemuan baru yang berguna bagi bangsanya
dengan teknologi yang diciptakannya. Hal ini bertolak belakang dengan keadaan
Indonesia yang belum mampu mengembangkan teknologi sendiri seperti negara
lainnya. Ketidakmampuan tersebut dapat diukur dengan sejauh mana perkembangan
sains yang sudah berjalan di Indonesia. Sedangkan sains merupakan pangkal dari
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga kini, saat zaman berada
pada titik post modern Indonesia sangat perlu meningkatkan ranah sains dalam
lini kehidupan.
Minat terhadap pendidikan IPA perlu di kembangkan sesuai
dengan kurikulum yang diberlakukan. Tidak
minatnya siswa terhadap pembelajaran IPA sejauh ini
dapat diukur dari tingkat kesukaran materi, fasilitas yang mendukung kegiatan
praktikum, serta kemampuan guru dalam mengelola kelas sehingga pembelajaran IPA
terasa menyenangkan dimata siswa. Pendidikan IPA dapat pula diartikan sebagai
suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengungkap gejala-gejala alam
dengan menerapkan langkah-langkah ilmiah serta untuk membentuk kepribadian atau
tingkah laku siswa sehingga siswa dapat memahami proses IPA dan dapat
dikembangkan di masyarakat. Pendidikan IPA menjadi suatu bidang ilmu yang memiliki
tujuan agar setiap siswa terutama yang ada di sekolah memiliki kepribadian yang
baik dan dapat menerapkan sikap ilmiah serta dapat mengembangkan potensi yang
ada di alam untuk dijadikan sebagai sumber ilmu dan dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari.
Sikap ilmiah adalah suatu
sikap yang dilandasi dengan kemampuan kritis dan logis serta melibatkan unsur
analisis. Sikap ilmiah dalam pembelajaran IPA memunculkan beberapa karakter
seperti :
1.
Rasa Ingin Tahu yang Tinggi.
2.
Jujur.
3.
Objektif.
4.
Berpikir secara Terbuka.
5.
Memiliki Kepedulian.
6.
Teliti.
7.
Tekun.
8.
Berani dan Santun.
Dengan demikian pendidikan IPA bukan hanya
sekedar teori akan tetapi dalam setiap bentuk pengajarannya lebih ditekankan
pada bukti dan kegunaan ilmu tersebut. Bukan berarti teori-teori terdahulu
tidak digunakan, ilmu tersebut akan terus digunakan sampai menemukan ilmu dan
teori baru. Teori lama digunakan sebagai pembuktian dan penyempurnaan ilmu-ilmu
alam yang baru. Hanya saja teori tersebut bukan untuk dihapal namun di terapkan
sebagai tujuan proses pembelajaran. Melihat hal tersebut di atas nampaknya
pendidikan IPA saat ini belum dapat menerapkannya. Perlu adanya usaha yang
dilakukan agar pendidikan IPA yang ada sekarang ini dapat dilaksanakan sesuai
dengan tujuan awal yang akan dicapai, karena kita tahu bahwa pendidikan IPA
tidak hanya pada teori-teori yang ada namun juga menyangkut pada kepribadian
dan sikap ilmiah dari peserta didik. Untuk itu maka kepribadian dan sikap
ilmiah perlu ditumbuhkan agar menjadi manusia yang sesuai dari tujuan
pendidikan. Sejak zaman dahulu kala,
sebenarnya nenek moyang telah menanamkan karakter bangsa ini dengan sikap
gotong royong, sopan santun, ramah dan berperangai yang lembut. Kini, tugas
guru sebagai penggerak pendidkan perlu merevitalisasi nilai-nilai yang sudah
luntur dan mengembalikannya menjadi karakter bangsa yang sudah di kenal banyak
orang dengan gotong royongnya, dan sopan santunnya. Menurut
Simon Philips dalam buku Refleksi Karakter bangsa (2008) karakter adalah
kumpulan tata nilai menuju pada suatu sistem, yang melandasi sikap dan perilaku
yang ditampilkan. Cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap
individu untuk hidup dan bekerjasama baik dalam lingkup keluarga, masyarakat bangsa
dan negara. Karakter seperti apa yang dapat dijadikan teladan. Maka, karakter
yang paling ideal adalah intelektual profetik, yaitu:
- Sadar sebagai makhluk ciptaan
Tuhan
- Cinta Tuhan
- Bermoral, jujur, saling
menghormati
- Bijaksana
- Pembelajar sejati
- Mandiri
- Kontributif
Namun, nilai-nilai karakter bangsa tersebut di atas kini hanyalah
wacana dalam retorika tapi sulit kita lihat dalam realita kehidupan. Kondisi
seperti ini memerlukan komitmen seluruh elemen masyarakat untuk menanam,
menyiram dan memupuk kembali nilai-nilai karakter bangsa di dalam hati nurani
generasi bangsa, sehingga tumbuh dan berkembang kembali dalam ucapan dan
perilaku kehidupan masyarakat. Menumbuhkembangkan nilai-nilai karakter bangsa
harus sinergi dilaksankan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Apabila ketiga pilar penopang keberhasilan pendidikan tidak memiliki komitmen,
dan integritas moral, maka sulit kiranya nilai-nilai karakter bangsa tersebut
di atas tertanam dalam ucapan dan perbuatan peserta didik sebagai generasi
penerus bangsa. Oleh karena itu, pendidikan IPA sebagai pembentuk
karakter bangsa, perlu dikembangkan dan di revitalisasi kembali sikap-sikap
ilmiah yang menjadi ciri khas untuk memunculkan individu yang cerdas, bermoral,
berintelektual tinggi, dan memiliki kesopanan dan keberanian yang kuat.
Sejatinya kedepan, melalui pendidikan IPA maka, akan tercipta sebuah generasi
yang mampu menciptakan teknologi berbasis IPTEK dan IMTAK untuk kemajuan
bangsanya sendiri. Indonesia akan maju dengan generasi yang cerdas, bermoral,
beretika, dan memiliki nilai-nilai luhur bangsa yang tinggi. Semua elemen perlu
berkontribusi dalam menggerakan sebuah kegiatan atau program untuk mendongkrak
terciptanya pendidikan IPA yang berkarakter yang mana akan memiliki kontribusi
tinggi dalam mencapai generasi emas yang berkarakter.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar