Jumat, 25 Desember 2015

PERAN PENDIDIKAN IPA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA

PERAN PENDIDIKAN IPA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA
Revolusi mental merupakan sebuah istilah tabu dan banyak di perbincangkan di berbagai kalangan. Di masa pemerintah Jokowi-JK seruan revolusi mental tersebut semakin ter blow up. Kini, pendidikan pun dituntut untuk mampu merevolusi mental peserta didik. Mengapa revolusi mental selalu di serukan?. Hal ini terkait dengan nilai karakter bangsa yang semakin merosot. Banyak fenomena yang terjadi akibat bobobroknya karakter anak bangsa. Degradasi nilai dan moral tidak hanya terjadi pada satu kalangan tetapi di berbagai kalangan hal ini kian terjadi. Mulai dari pejabat banyak yang korupsi, pelajar banyak yang terlibat tawuran, oknum guru melakukan pencabulan dan banyak hal lain yang kini terjadi. Ironi memang dengan kenyataan ini, bahkan angka kriminalitas di Indonesia saja semakin hari semakin meningkat ini sudah mencerminkan betapa tidak bermoralnya anak bangsa. Ketika negara lain sudah maju dengan teknologinya, dan Indonesia masih harus berbenah dengan mental bangsanya sendiri. Sebuah negara besar di bangun dari mental anak bangsa yang kuat dengan cerminan nilai moral akhlak dan etika yang dimilikinya. Ketika kita definisikan, revolusi adalah sebuah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung dengan begitu cepat menyangkut beberapa aspek kehidupan masyarakat. Tentunya sebuah perubahan jelas menginginkan  adanya peningkatan yang signifikan dari sebuah aspek kehidupan menjadi lebih baik. Sedangkan definisi mental menurut KBBI adalah bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga.
Revolusi mental artinya sebuah perubahan yang berpangkal pada mental manusia. Mental disini adalah suatu karakter yang menjadikannya suatu kepribadian yang mampu mendorong untuk melakukan berbagai  kegiatan yang positif. Revolusi mental ini merupakan suatu upaya untuk merobohkan dan menjebol mental-mental yang kurang baik, yang selama ini mungkin sudah mendarah daging. Dengan revolusi mental ini, maka suatu sistem baru yang berkaitan dengan dialektika, logika, dan romantika kehidupan akan menjembatani pembentukan karakter manusia yang berakhlak dan bermoral. Lantas bagaimana kita dapat menembus revolusi mental dalam situasi dan kondisi saat ini?. Revolusi mental yang mengarah kepada kemajuan bangsa, dapat terbentuk ketika semua elemen menunjang dalam merepresentasikan revolusi mental ini kedalam semua elemen kehidupan. Beragam faktor yang muncul dapat berpengaruh terhadap pembentukan revolusi mental. Beberapa faktor tersebut dapat kita cermati mulai dari kebijakan pemimpin, sistem pemerintahan, sistem pendidikan, sistem ekonomi, kesehatan dan beberapa aspek lain yang berhubungan erat dengan kemaslahatan umat manusia.
Salah satu aspek yang dapat menjadi tumpuan dalam revolusi mental adalah dengan pendidikan. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mencapai suatu perubahan. Sesuai yang dikemukakan oleh M.J. Langeveld bahwa pendidikan merupakan upaya dalam membimbing manusia yang belum dewasa kearah kedewasaan. Pendidikan adalah suatu usaha dalam menolong anak untuk melakukan tugas-tugas hidupnya, agar mandiri dan bertanggung jawab secara susila. Pendidikan juga diartikan sebagai usaha untuk mencapai penentuan diri dan tanggung jawab. Memaknai revolusi mental kaitannya dengan pendidikan adalah bagaimana menanamkan nilai, etika, moral dan karakter sejak usia dini bahkan melalui pendidikan hal tersebut dapat terbentuk. Sebagaimana tercantum dalam UU.No.20 tahun 2003 pasal 1 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Berdasarkan penjelasan yang termaktub dalam UU.No.20 tahun 2003 bahwa setiap peserta didik harus memiliki kekuatan spiritual keagaman, pengendalian diri, dan kepribadian yang baik jelas ini akan berdampak pada mental yang terbentuk dalam setiap diri peserta didik, yang terinternalisasi dengan proses pendidikan. Sebagaimana tujuan dari pendidikan berdasarkan UU.No.20 tahun 2003 pasal 3 bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan penjelasan diatas bahwa seharusnya kini pendidikan dapat mengaitkan  pembelajaran dengan pendidikan karakter. “Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh setiap benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, dan merupakan mesin yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespon sesuatu” (Kertajaya dalam Hidayatullah ,2010:13).

Untuk mewujudkannya, dapat direalisasikan dalam bentuk kurikulum atau program pendidikan di sekolah-sekolah. Karena bagaimanapun revolusi mental tidak akan terbentuk ketika tidak ada program khusus yang akan mendongkrak lahirnya suatu gerakan perubahan baru menuju mental-mental yang berakhlak dan bermoral. Oleh karena itu, pendidikan sebagai tonggak utama dalam pembentukan revolusi mental perlu melakukan kajian strategis agar semua tujuan-tujuan tersebut tercapai. Salah satu bentuk program pendidikan yang dapat mendongkrak revolusi mental adalah dengan pengembangan mutu pembelajaran dalam setiap bidang studi. Salah satu bentuk program dalam revolusi mental yang dapat dilakukan dalam pembelajaran adalah dengan kajian strategis mengenai peran pendidikan IPA dalam pembentukan karakter bangsa. Mengapa pendidikan IPA memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter bangsa?. IPA merupakan suatu konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia. Segala hal yang berkaitan dengan lingkungan sekitar baik lingkungan fisik dan non fisik di pelajari dalam pembelajaran IPA. Lingkungan merupakan sebuah kerangka dalam pembentukan karakter peserta didik. Karena lingkungan akan dengan kuat mempengaruhi bagaimana peserta didik berprilaku. Oleh karena itu, pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan teknologi. Karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan minat manusia serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemahaman tentang alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan masih bersifat rahasia. Sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Perkembangan pendidikan IPA semakin hari semakin berkembang dari beberapa dekade ini, banyak negara maju yang sudah memanfaatkan pendidikan IPA dalam menciptakan suatu penemuan-penemuan baru yang berguna bagi bangsanya dengan teknologi yang diciptakannya. Hal ini bertolak belakang dengan keadaan Indonesia yang belum mampu mengembangkan teknologi sendiri seperti negara lainnya. Ketidakmampuan tersebut dapat diukur dengan sejauh mana perkembangan sains yang sudah berjalan di Indonesia. Sedangkan sains merupakan pangkal dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga kini, saat zaman berada pada titik post modern Indonesia sangat perlu meningkatkan ranah sains dalam lini kehidupan.
Minat terhadap pendidikan IPA perlu di kembangkan sesuai dengan kurikulum yang diberlakukan. Tidak minatnya siswa terhadap pembelajaran IPA sejauh ini dapat diukur dari tingkat kesukaran materi, fasilitas yang mendukung kegiatan praktikum, serta kemampuan guru dalam mengelola kelas sehingga pembelajaran IPA terasa menyenangkan dimata siswa. Pendidikan IPA dapat pula diartikan sebagai suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengungkap gejala-gejala alam dengan menerapkan langkah-langkah ilmiah serta untuk membentuk kepribadian atau tingkah laku siswa sehingga siswa dapat memahami proses IPA dan dapat dikembangkan di masyarakat. Pendidikan IPA menjadi suatu bidang ilmu yang memiliki tujuan agar setiap siswa terutama yang ada di sekolah memiliki kepribadian yang baik dan dapat menerapkan sikap ilmiah serta dapat mengembangkan potensi yang ada di alam untuk dijadikan sebagai sumber ilmu dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap ilmiah adalah suatu sikap yang dilandasi dengan kemampuan kritis dan logis serta melibatkan unsur analisis. Sikap ilmiah dalam pembelajaran IPA memunculkan beberapa karakter seperti :
1.      Rasa Ingin Tahu yang Tinggi.
2.      Jujur.
3.      Objektif.
4.      Berpikir secara Terbuka.
5.      Memiliki Kepedulian.
6.      Teliti.
7.      Tekun.
8.      Berani dan Santun.
Dengan demikian pendidikan IPA bukan hanya sekedar teori akan tetapi dalam setiap bentuk pengajarannya lebih ditekankan pada bukti dan kegunaan ilmu tersebut. Bukan berarti teori-teori terdahulu tidak digunakan, ilmu tersebut akan terus digunakan sampai menemukan ilmu dan teori baru. Teori lama digunakan sebagai pembuktian dan penyempurnaan ilmu-ilmu alam yang baru. Hanya saja teori tersebut bukan untuk dihapal namun di terapkan sebagai tujuan proses pembelajaran. Melihat hal tersebut di atas nampaknya pendidikan IPA saat ini belum dapat menerapkannya. Perlu adanya usaha yang dilakukan agar pendidikan IPA yang ada sekarang ini dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan awal yang akan dicapai, karena kita tahu bahwa pendidikan IPA tidak hanya pada teori-teori yang ada namun juga menyangkut pada kepribadian dan sikap ilmiah dari peserta didik. Untuk itu maka kepribadian dan sikap ilmiah perlu ditumbuhkan agar menjadi manusia yang sesuai dari tujuan pendidikan. Sejak zaman dahulu kala, sebenarnya nenek moyang telah menanamkan karakter bangsa ini dengan sikap gotong royong, sopan santun, ramah dan berperangai yang lembut. Kini, tugas guru sebagai penggerak pendidkan perlu merevitalisasi nilai-nilai yang sudah luntur dan mengembalikannya menjadi karakter bangsa yang sudah di kenal banyak orang dengan gotong royongnya, dan sopan santunnya. Menurut Simon Philips dalam buku Refleksi Karakter bangsa (2008) karakter adalah kumpulan tata nilai menuju pada suatu sistem, yang melandasi sikap dan perilaku yang ditampilkan. Cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama baik dalam lingkup keluarga, masyarakat bangsa dan negara. Karakter seperti apa yang dapat dijadikan teladan. Maka, karakter yang paling ideal adalah intelektual profetik, yaitu:
  1. Sadar sebagai makhluk ciptaan Tuhan
  2. Cinta Tuhan
  3. Bermoral, jujur, saling menghormati
  4. Bijaksana
  5. Pembelajar sejati
  6. Mandiri
  7. Kontributif
Namun, nilai-nilai karakter bangsa tersebut di atas kini hanyalah wacana dalam retorika tapi sulit kita lihat dalam realita kehidupan. Kondisi seperti ini memerlukan komitmen seluruh elemen masyarakat untuk menanam, menyiram dan memupuk kembali nilai-nilai karakter bangsa di dalam hati nurani generasi bangsa, sehingga tumbuh dan berkembang kembali dalam ucapan dan perilaku kehidupan masyarakat. Menumbuhkembangkan nilai-nilai karakter bangsa harus sinergi dilaksankan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Apabila ketiga pilar penopang keberhasilan pendidikan tidak memiliki komitmen, dan integritas moral, maka sulit kiranya nilai-nilai karakter bangsa tersebut di atas tertanam dalam ucapan dan perbuatan peserta didik sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, pendidikan IPA sebagai pembentuk karakter bangsa, perlu dikembangkan dan di revitalisasi kembali sikap-sikap ilmiah yang menjadi ciri khas untuk memunculkan individu yang cerdas, bermoral, berintelektual tinggi, dan memiliki kesopanan dan keberanian yang kuat. Sejatinya kedepan, melalui pendidikan IPA maka, akan tercipta sebuah generasi yang mampu menciptakan teknologi berbasis IPTEK dan IMTAK untuk kemajuan bangsanya sendiri. Indonesia akan maju dengan generasi yang cerdas, bermoral, beretika, dan memiliki nilai-nilai luhur bangsa yang tinggi. Semua elemen perlu berkontribusi dalam menggerakan sebuah kegiatan atau program untuk mendongkrak terciptanya pendidikan IPA yang berkarakter yang mana akan memiliki kontribusi tinggi dalam mencapai generasi emas yang berkarakter.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar